Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label renungan

Renungan Minggu Prapaskah II Tahun A: Dari Panggilan Abram Menuju Kemuliaan Kristus

Bacaan 1 Kej 12: 1-4a Bacaam 2: 2Tim 1: 8b-10 bacaan Injil : Mat 17: 1-9 Bacaan pertama, kita mendengar panggilan Allah kepada Abram dalam Kitab Kejadian . Tuhan berfirman: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” (Kej 12:1). Panggilan ini radikal. Abram tidak diberi peta, tidak diberi kepastian detail, hanya janji. Namun ia taat. Ayat 4 mengatakan singkat namun penuh makna: “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya.” Inilah inti iman yakni berjalan bukan karena melihat, tetapi karena percaya. Abram meninggalkan zona nyaman, meninggalkan keamanan, demi sebuah janji Allah. Dalam hidup kita pun, Tuhan sering memanggil kita keluar dari kebiasaan lama, dari pola hidup yang tidak sesuai kehendak-Nya, menuju hidup baru yang lebih setia. Sering kali kita ingin kepastian terlebih dahulu sebelum melangkah. Kita ingin tahu hasilnya, jaminannya, keberhasilannya. Namun Allah bekerja dengan cara yang b...

Pertemuan PUGA: Bincang Pastoral Paroki Santo Andreas Ngallu

Hari itu cuaca mendung meliputi bumi Mangili. Meski demikian para Pembina Umat dan Guru Agama (PUGA) paroki St. Andreas Ngallu tetap datang menghadiri pertemuan. Pertemuan ini lebih dilihat sebagai kegiatan B incang Pastoral yang dipahami sebagai ruang refleksi dan koordinasi pelayanan yang sangat penting dalam kehidupan sebuah paroki. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Pater Leonardus Laka Hoaratan, CSsR selaku pastor paroki.  Dalam pertemuan ini, beberapa hal dibicarakan, yakni konsep dan pelaksanaan puasa dalam Gereja Katolik, laporan data umat dari stasi-stasi, evaluasi kegiatan pastoral bulan Februari, serta rencana kegiatan bulan Maret mendatang. Pertemuan PUGA Paroki St Andrreas Ngallu yang dilaksanakan di rumah umat di Stasi Tanarara, Mangili (Foto: gurukatolik.com) Konsep dan Pelaksanaan Puasa dalam Gereja Katolik Konsep dan pelaksanaan Puasa dalam gereja Katolik dipaparkan oleh Pater Remigius Sila, CSsR selaku pastor rekan. Berikut ringkasan pemaparannya:  Puasa d...

Renungan Minggu Prapaskah I Tahun A: Dari Taman Eden Ke Padang Gurun

Bacaan Hari Minggu Prapaskah I Tahun A Bacaan 1 Kej. 2: 7-9; 3: 1-7 Bacaan 2 Rom 5: 12, 17-19 Bacaan Injil Mat 4: 1-11 Kejatuhan Manusia (Kej 2: 7-9; 3: 1-7) Kitab Kejadian melukiskan awal kehidupan manusia dengan gambaran yang sangat indah. Tuhan membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Manusia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk yang dihidupi oleh napas Allah sendiri. Ia ditempatkan di Taman Eden sebuah simbol keharmonisan: harmonis dengan Allah, dengan sesama, dengan alam, dan dengan dirinya sendiri. Di tengah taman itu berdiri dua pohon: pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Larangan Allah bukanlah bentuk pembatasan kebebasan, melainkan tanda kasih. Allah ingin manusia hidup dalam relasi percaya, bukan dalam kecurigaan. Namun ular datang membawa godaan. Strateginya halus: ia menanamkan keraguan terhadap kebaikan Allah. “Sekali-kali kamu tidak akan mati.” Godaan terbesar bukan se...

Hidup dalam Kebenaran Hati (Renungan Katolik Hari Minggu Biasa Ke VI Tahun A)

Bacaan kitab Suci Bacaan 1 Sir. 15: 15-20  Bacaan 2 1Kor 2: 6-10  Injil Mat 5: 20-22a, 27-28, 33-34a, 37 Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk ke dalam kedalaman hati. Bacaan dari Kitab Sirakh (Sir. 15:15-20), Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus (1Kor. 2:6-10), dan Injil Matius (Mat. 5:20-22a, 27-28, 33-34a, 37) berbicara tentang pilihan, kebijaksanaan Allah , dan kebenaran yang melampaui sekadar aturan lahiriah. Ketiga bacaan ini menyatu dalam satu pesan besar: Allah menghendaki ketaatan yang lahir dari hati, bukan sekadar formalitas agama. Allah Memberi Kita Kebebasan untuk Memilih Dalam Kitab Sirakh dikatakan dengan sangat jelas: "Jika engkau mau, engkau dapat menuruti perintah; berlaku setia adalah pilihanmu." (Sir. 15:15) Kalimat ini sederhana, tetapi sangat mendalam. Allah tidak menciptakan manusia sebagai robot yang diprogram untuk selalu taat. Ia memberi kita kebebasan. Kebebasan adalah anugerah, tetapi sekaligus tanggung jawab. Di hadapan kita diletakkan hidup...

Menjadi garam dan Terang dalam Kehidupan Nyata

Renungan Minggu, 08-02-2026 Bacaan Tahun A Bacaan 1 Yes. 58: 7-10 Bacaan 2  1Kor. 2: 1-5 Injil Mat. 5: 13-16 Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini membentuk satu kesatuan pesan yang sangat kuat dan relevan bagi kehidupan orang beriman di tengah dunia. Nabi Yesaya mengingatkan bahwa ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual, melainkan harus berbuah dalam tindakan kasih dan keadilan sosial. Rasul Paulus menegaskan bahwa pewartaan iman tidak bertumpu pada kehebatan kata-kata atau kebijaksanaan manusia, melainkan pada kuasa Allah yang bekerja dalam kelemahan. Sementara itu, Yesus dalam Injil Matius memanggil para murid-Nya untuk menjadi garam dunia dan terang dunia, sebuah panggilan untuk menghadirkan Allah melalui hidup yang bermakna bagi sesama. Ketiga bacaan ini mengajak kita untuk merenungkan satu pertanyaan mendasar: apakah iman kita sungguh tampak dan berdampak dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah iman kita hanya berhenti sebagai pengetahuan, kebiasaan, atau formalitas keagamaan?...

Balada Asmara Kanda (Sebuah Kritik Sosial)

Berdua di bawah naungan pohon asam, di pinggir pantai Walakiri . Matahari memerah di ufuk barat. Angin sepoi-sepoi sejuk lembut mencubit kulit. Kanda menghadap ke arah Dinda. Dinda pun menghadap ke arah Kanda. Keduanya saling berhadapan. Perlahan Kanda memandang Dinda. Dinda pun memandang Kanda. Keduanya saling beradu pandang. Kanda menatap Dinda dengan mata berkedip gelisah melihat Dinda yang mengenakan gaun tenunan , yang biasa dikenakan perempuan tatkala menjumpai seseorang yang dihormati. Betapa elok parasnya membuat mata Kanda kian merana. Suasana lingkungan alam sekitar seperti lolongan anjing, ringkikan kuda, lenguhan sapi dan kerbau serta kambing menghiasi padang rumput yang bertebaran di bukit-bukit tandus berkapur, ikut merendai perjumpaan mereka. Iustrasi gambar oleh Dziana Hasanbekava dari pexels.com Kanda : “Aku Kanda. Lihatlah tulisan di kalung leherku. Dalam diriku mengalir darah tuan, bangsawan. Aku memiliki banyak hewan di padang yang tidak terhitung jumlahnya. Memilik...

Refleksi dan Doa Ulang Tahun 17 Agustus: Syukur atas Hidup dan Jasa Orangtua

Hari ini aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merayakan Ulang Tahun. Tanggal 17 Agustus selalu menjadi hari yang begitu bermakna bukan hanya untuk diriku tetapi juga untuk bangsa Indonesia . Jika bangsa ini merayakan kemerdekaan dengan penuh syukur, maka aku pun bersyukur atas hidup dan perjalanan yang telah aku lalui hingga saat ini Aku merenungkan bahwa hidup adalah anugerah. Setiap tahun bertambah bukan hanya sekedar angka tetapi kesempatan baru untuk bertumbuh, memperbaiki diri dan semakin berarti bagi orang lain. Seperti para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan aku pun ingin berjuang dalam kehidupanku melawan  keraguan serta kelemahan yang menghalangi langkahku. Ulang tahun ini menjadi pengingat bahwa waktu berjalan cepat. Aku ingin menggunakan tahun-tahun ke depan dengan bijaksana, lebih berbakti kepada Tuhan, keluarga, sesama dan bangsa. Semoga semangat kemerdekaan yang dirayakan oleh seluruh rakayat Indonesia juga menjadi semangatku dalam menjalani hidup merdeka da...

Menjadi Pekerja yang Diutus Tuhan (Renungan Harian Katolik Minggu 06 Juli 2025)

Minggu Biasa XIV Thn. C Bacaan 1 Yes 66: 10-14c  Bacaan 2 Gal 6: 14-18 Bacaan Injil Luk 10: 1-9 Renungan Untuk Pembina Umat dan Guru Agama Katolik Injil hari ini, dari Lukas 10:1-9, menampilkan salah satu momen penting dalam pelayanan Yesus: pengutusan tujuh puluh murid yang lain. Ini adalah sebuah panggilan dan perutusan, di mana Yesus secara sadar mengutus para murid-Nya ke tempat-tempat yang akan Ia datangi. Ia tidak mengutus mereka dengan kemewahan atau jaminan duniawi, tetapi dengan semangat kesederhanaan, kerendahan hati, dan damai. Sebagai pembina umat dan guru agama Katolik, kita adalah bagian dari mereka yang telah diutus. Kita diutus bukan atas nama kita sendiri, tetapi atas nama Yesus Kristus dan demi Kerajaan Allah. Renungan ini mengajak kita semua untuk kembali menyadari makna panggilan dan perutusan kita dalam terang sabda Tuhan hari ini. Ada lima (5) poin penting untuk kita renungkan bersama: Pertemuan PUGA (Pembina Umat dan Guru Agama) Paroki St. Andrreas Ngallu, Su...

Renungan Hari Raya Santu Petrus dan Paulus Rasul

Bacaan 1 Kis 12:1-12 Bacaan 2 Tim 4:6-8;17-18 Bacaan Injil Mat 16: 13-19  Iman yang Teguh, Pewartaan yang Hidup: Renungan Hari Raya Santu Petrus dan Paulus Rasul Hari Raya Santo Petrus dan Paulus selalu menjadi momen istimewa dalam kalender Gereja Katolik. Dua rasul besar ini tidak hanya dikenang karena perannya dalam sejarah Gereja awal, tetapi juga karena keteladanan hidup mereka yang sangat relevan bagi kita saat ini, khususnya bagi para guru agama, katekis, pembina umat dan segenap umat yang aktif dalam pelayanan Gereja. Petrus, Batu Karang yang Pernah Retak Petrus adalah tokoh yang sangat manusiawi. Ia bersemangat, berani, tapi juga pernah menyangkal Yesus dalam situasi genting. Namun, Yesus tidak membuangnya. Justru kepada Petrus, Yesus berkata: "Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku." (Matius 16:18 ) Sebagai guru dan pelayan umat, kita sering merasa tidak cukup layak. Tapi kisah Petrus mengajarkan bahwa Tuhan tidak memilih kare...

Kisah Di Penghujung Ziarah

Bunyi lonceng pecahkan kesunyian. Mengajak semua agar meninggalkan aktivitas pribadinya menuju perjamuan bersama. Aku juga ikut bergegas dengan hati gembira. Jamuan makan malam bersama memang membawa kenikmatan tersendiri bagiku. Aku telah mempersiapkan diri untuk secara jujur dan berani menyampaikan kepada teman- teman apa yang telah aku putuskan. Menjelang berakhirnya jamuan makan malam, aku tampil di hadapan kawan-kawan semuanya.  ”Selamat malam kawan-kawanku seperjuangan. Saya berdiri di sini untuk yang terakhir kalinya. Setelah menjalani waktu penuh pergumulan, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri ziarah panggilan ini. Keputusan ini keluar dari kehendakku yang bebas tanpa ada intervensi dari pihak mana pun. Aku sungguh menyadari bahwa ada banyak jalan yang mesti dilalui. Namun dari sekian banyak jalan, semuanya dapat diringkas menjadi dua jalan yakni jalan masuk dan jalan keluar. Saya telah memilih jalan keluar sekaligus membuka jalan masuk yang baru...” Inilah sepenggal k...