body { font-family: "Poppins", poppins-fallback, poppins-fallback-android, sans-serif; } /* Poppins font metrics: - ascent = 1050 - descent = 350 - line-gap = 100 - UPM: 1000 AvgCharWidth: - Poppins: 538.0103768 - Arial: 884.1438804 - Roboto: 969.0502537 */ @font-face { font-family: poppins-fallback; src: local("Arial"); size-adjust: 60.85099821%; ascent-override: 164.3358416%; descent-override: 57.51754455%; line-gap-override: 16.43358416%; } @font-face { font-family: poppins-fallback-android; src: local("Roboto"); size-adjust: 55.5193474%: ascent-override: 180.1173909%; descent-override: 63.04108683%; line-gap-override: 18.01173909%; }

Renungan Minggu Prapaskah II Tahun A: Dari Panggilan Abram Menuju Kemuliaan Kristus

Bacaan 1 Kej 12: 1-4a
Bacaam 2: 2Tim 1: 8b-10
bacaan Injil : Mat 17: 1-9

Bacaan pertama, kita mendengar panggilan Allah kepada Abram dalam Kitab Kejadian. Tuhan berfirman: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” (Kej 12:1). Panggilan ini radikal. Abram tidak diberi peta, tidak diberi kepastian detail, hanya janji. Namun ia taat. Ayat 4 mengatakan singkat namun penuh makna: “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya.”

Inilah inti iman yakni berjalan bukan karena melihat, tetapi karena percaya. Abram meninggalkan zona nyaman, meninggalkan keamanan, demi sebuah janji Allah. Dalam hidup kita pun, Tuhan sering memanggil kita keluar dari kebiasaan lama, dari pola hidup yang tidak sesuai kehendak-Nya, menuju hidup baru yang lebih setia. Sering kali kita ingin kepastian terlebih dahulu sebelum melangkah. Kita ingin tahu hasilnya, jaminannya, keberhasilannya. Namun Allah bekerja dengan cara yang berbeda: Ia meminta kita percaya lebih dahulu, lalu berjalan bersama-Nya.

Dalam bacaan kedua dari Surat Kedua kepada Timotius, Rasul Paulus meneguhkan Timotius agar tidak malu bersaksi tentang Tuhan dan tidak takut menderita demi Injil. Ia berkata: “Turutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.” (2Tim 1:8). Paulus mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah dalam Kristus Yesus. Yesus telah membinasakan maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa melalui Injil. Artinya, penderitaan bukan akhir cerita. Salib bukan kegagalan, melainkan jalan menuju kemuliaan. Pesan ini sejalan dengan bacaan Injil hari ini. Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung tinggi dan di sana Ia dimuliakan di hadapan mereka. Peristiwa ini dikenal sebagai Transfigurasi.

Gambar oleh Frank Merino dari pexels.com

Dan dalam Injil menurut Injil Matius 17:1-9, Yesus berubah rupa: wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. Musa dan Elia menampakkan diri dan berbicara dengan Dia. Musa melambangkan Taurat, dan Elia melambangkan para nabi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan seluruh Perjanjian Lama. Ia bukan sekadar nabi, bukan hanya guru moral, tetapi Putra Allah yang diutus untuk menyelamatkan manusia. Petrus begitu terpesona hingga berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini!” Ia ingin membangun tiga kemah dan menetap di sana. Namun suara dari awan berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Pesan utama peristiwa ini jelas: dengarkanlah Dia.

Antara Gunung dan Lembah

Gunung dalam Kitab Suci sering menjadi tempat perjumpaan dengan Allah. Namun Yesus tidak mengajak murid-murid tinggal selamanya di gunung. Setelah mengalami kemuliaan, mereka harus turun kembali ke lembah, kembali ke realitas kehidupan, bahkan menuju Yerusalem tempat penderitaan menanti.

Di sinilah kaitan dengan panggilan Abram dan nasihat Paulus menjadi jelas. Iman bukan sekadar pengalaman rohani yang indah. Iman adalah perjalanan. Ada saat kita merasakan terang dan penghiburan, tetapi ada pula saat kita harus menghadapi tantangan dan salib.

Banyak orang ingin mengalami “gunung Tabor” dalam hidup rohani retret yang menyentuh, doa yang menguatkan, perayaan liturgi yang khusyuk. Namun Tuhan tidak memanggil kita untuk berhenti di sana. Ia memanggil kita untuk membawa terang itu ke dalam kehidupan sehari-hari: keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan masyarakat.

Suara dari surga berkata: “Dengarkanlah Dia.” Ini bukan hanya ajakan untuk mendengar secara fisik, tetapi untuk menaati dan menghidupi sabda-Nya.

Bagaimana kita mendengarkan Yesus?

  • Melalui Sabda Tuhan. Membaca dan merenungkan Kitab Suci membantu kita memahami kehendak Allah.
  • Melalui Gereja. Ajaran Gereja menuntun kita agar tidak tersesat dalam penafsiran pribadi.
  • Melalui suara hati. Roh Kudus bekerja dalam batin kita untuk membimbing pada kebenaran.
  • Melalui peristiwa hidup. Bahkan dalam kesulitan, Tuhan berbicara dan membentuk kita.

Mendengarkan Yesus berarti berani berubah. Abram berubah arah hidupnya. Timotius didorong untuk berani bersaksi. Para murid yang menyaksikan kemuliaan Kristus dikuatkan untuk menghadapi skandal salib.

Transfigurasi dalam Hidup Kita

Peristiwa transfigurasi bukan hanya tentang perubahan rupa Yesus. Itu juga tentang perubahan cara pandang para murid. Mereka yang sebelumnya melihat Yesus sebagai Guru kini semakin memahami bahwa Ia adalah Putra Allah.

Demikian pula kita. Masa Prapaskah yang sering dikaitkan dengan bacaan ini dalam liturgi mengajak kita mengalami transfigurasi batin. Bukan wajah kita yang berubah bercahaya, tetapi hati kita yang diperbarui. 

  • Dari egoisme menjadi kasih.
  • Dari ketakutan menjadi kepercayaan.
  • Dari keraguan menjadi kesetiaan.
  • Transfigurasi sejati terjadi ketika kita semakin menyerupai Kristus.

Abram berani melangkah tanpa tahu tujuan akhir. Paulus berani menderita demi Injil. Yesus berani menuju Yerusalem setelah dimuliakan di gunung. Semua menunjukkan satu pola: kemuliaan sejati tidak terlepas dari ketaatan dan pengorbanan.

Sering kali kita ingin kemuliaan tanpa salib, berkat tanpa perjuangan. Namun iman Kristen mengajarkan bahwa jalan menuju kebangkitan selalu melewati Jumat Agung. Transfigurasi di gunung Tabor adalah peneguhan sebelum penderitaan salib.

Dalam hidup keluarga, mungkin ada pergumulan ekonomi. Dalam pelayanan, mungkin ada konflik atau kelelahan. Dalam panggilan sebagai pendidik atau pelayan Gereja, mungkin ada tantangan yang membuat kita hampir menyerah. Sabda hari ini mengajak kita untuk tetap percaya: Allah setia pada janji-Nya.

Paulus berkata bahwa Kristus telah membinasakan maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Inilah dasar pengharapan kita. Apa pun yang kita alami di dunia ini tidak bersifat kekal. Kemuliaan Allah lebih besar daripada penderitaan kita.

Transfigurasi memberi kita gambaran sekilas tentang kemuliaan itu. Seolah-olah Yesus membuka tirai dan memperlihatkan siapa Dia sebenarnya, agar para murid tidak goyah saat melihat Dia tersalib.

Demikian pula dalam hidup kita, Tuhan kadang memberi pengalaman rohani yang menguatkan bukan untuk membuat kita puas diri, tetapi untuk meneguhkan kita menghadapi tantangan.

Bacaan hari ini mengajak kita pada tiga sikap:

  • Berjalan dalam iman seperti Abram.
  • Berani bersaksi dan menderita seperti nasihat Paulus kepada Timotius.
  • Mendengarkan dan mengikuti Yesus seperti pesan dari surga dalam peristiwa Transfigurasi.

Marilah kita mohon rahmat agar hidup kita juga mengalami “transfigurasi” bukan dalam arti lahiriah, tetapi dalam kesetiaan dan kasih yang semakin nyata. Semoga ketika orang melihat hidup kita, mereka dapat melihat pantulan cahaya Kristus. Dan ketika kita menghadapi lembah penderitaan, kita ingat bahwa kita pernah melihat kemuliaan-Nya, dan bahwa janji-Nya tidak pernah gagal. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Minggu Prapaskah II Tahun A: Dari Panggilan Abram Menuju Kemuliaan Kristus"