Berdua di bawah naungan pohon asam, di pinggir pantai Walakiri . Matahari memerah di ufuk barat. Angin sepoi-sepoi sejuk lembut mencubit kulit. Kanda menghadap ke arah Dinda. Dinda pun menghadap ke arah Kanda. Keduanya saling berhadapan. Perlahan Kanda memandang Dinda. Dinda pun memandang Kanda. Keduanya saling beradu pandang. Kanda menatap Dinda dengan mata berkedip gelisah melihat Dinda yang mengenakan gaun tenunan , yang biasa dikenakan perempuan tatkala menjumpai seseorang yang dihormati. Betapa elok parasnya membuat mata Kanda kian merana. Suasana lingkungan alam sekitar seperti lolongan anjing, ringkikan kuda, lenguhan sapi dan kerbau serta kambing menghiasi padang rumput yang bertebaran di bukit-bukit tandus berkapur, ikut merendai perjumpaan mereka. Iustrasi gambar oleh Dziana Hasanbekava dari pexels.com Kanda : “Aku Kanda. Lihatlah tulisan di kalung leherku. Dalam diriku mengalir darah tuan, bangsawan. Aku memiliki banyak hewan di padang yang tidak terhitung jumlahnya. Memilik...
Mendidik dan Mengajar dalam Terang Iman dan Akal Budi