Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Balada Asmara Kanda (Sebuah Kritik Sosial)

Berdua di bawah naungan pohon asam, di pinggir pantai Walakiri . Matahari memerah di ufuk barat. Angin sepoi-sepoi sejuk lembut mencubit kulit. Kanda menghadap ke arah Dinda. Dinda pun menghadap ke arah Kanda. Keduanya saling berhadapan. Perlahan Kanda memandang Dinda. Dinda pun memandang Kanda. Keduanya saling beradu pandang. Kanda menatap Dinda dengan mata berkedip gelisah melihat Dinda yang mengenakan gaun tenunan , yang biasa dikenakan perempuan tatkala menjumpai seseorang yang dihormati. Betapa elok parasnya membuat mata Kanda kian merana. Suasana lingkungan alam sekitar seperti lolongan anjing, ringkikan kuda, lenguhan sapi dan kerbau serta kambing menghiasi padang rumput yang bertebaran di bukit-bukit tandus berkapur, ikut merendai perjumpaan mereka. Iustrasi gambar oleh Dziana Hasanbekava dari pexels.com Kanda : “Aku Kanda. Lihatlah tulisan di kalung leherku. Dalam diriku mengalir darah tuan, bangsawan. Aku memiliki banyak hewan di padang yang tidak terhitung jumlahnya. Memilik...

Kisah Di Penghujung Ziarah

Bunyi lonceng pecahkan kesunyian. Mengajak semua agar meninggalkan aktivitas pribadinya menuju perjamuan bersama. Aku juga ikut bergegas dengan hati gembira. Jamuan makan malam bersama memang membawa kenikmatan tersendiri bagiku. Aku telah mempersiapkan diri untuk secara jujur dan berani menyampaikan kepada teman- teman apa yang telah aku putuskan. Menjelang berakhirnya jamuan makan malam, aku tampil di hadapan kawan-kawan semuanya.  ”Selamat malam kawan-kawanku seperjuangan. Saya berdiri di sini untuk yang terakhir kalinya. Setelah menjalani waktu penuh pergumulan, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri ziarah panggilan ini. Keputusan ini keluar dari kehendakku yang bebas tanpa ada intervensi dari pihak mana pun. Aku sungguh menyadari bahwa ada banyak jalan yang mesti dilalui. Namun dari sekian banyak jalan, semuanya dapat diringkas menjadi dua jalan yakni jalan masuk dan jalan keluar. Saya telah memilih jalan keluar sekaligus membuka jalan masuk yang baru...” Inilah sepenggal k...

Bisikan Pendidikan dan Jejak-jejak Mimpi

Mei kembali menyapa semesta. Begitu lembut. Ia datang bersama hujan di sela-sela angin. Memberi jatah bagi bulir padi yang tumbuh pada tanah retak akibat panas. Membantu tumbuh tunas baru pada pohon-pohon. Memulihkan luka bunga-bunga liar di padang Savana akibat gigitan hewan. Juga penyejuk bagi jiwa-jiwa manusia yang kemarau. Kring! Kring! kring! Alarm ponsel genggamku bergetar hebat tepat disebelah kanan kupingku. Tubuhku begitu sulit digerakkan. Berat. Pelan-pelana kumemaksa mataku terbuka.Cukup lama hingga mataku menangkap cahaya sang surya yang menembus celahjendela.Akubenar-benar kesiangan. Rupanya hujan semalam benar-benar membawaku pada lelap berkepanjangan. Aku bergegas membersihkan tubuhku. Memakai seragam dan sepatu. Lalu mengambil selendang motif berwarna merah darah yang telah kusiapkan dari semalam di atas meja. Setelah semua beres, aku berlari kecil menuju dapur. Aku mendapati ibu duduk di pinggir tungku api. Tangannya sibuk mengaduk makanan yang menguap dari mulut panci...