Menjadi garam dan Terang dalam Kehidupan Nyata
Bacaan Tahun A
Bacaan 1 Yes. 58: 7-10
Bacaan 2 1Kor. 2: 1-5
Injil Mat. 5: 13-16
Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini membentuk satu kesatuan pesan yang sangat kuat dan relevan bagi kehidupan orang beriman di tengah dunia. Nabi Yesaya mengingatkan bahwa ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual, melainkan harus berbuah dalam tindakan kasih dan keadilan sosial. Rasul Paulus menegaskan bahwa pewartaan iman tidak bertumpu pada kehebatan kata-kata atau kebijaksanaan manusia, melainkan pada kuasa Allah yang bekerja dalam kelemahan. Sementara itu, Yesus dalam Injil Matius memanggil para murid-Nya untuk menjadi garam dunia dan terang dunia, sebuah panggilan untuk menghadirkan Allah melalui hidup yang bermakna bagi sesama.
Ketiga bacaan ini mengajak kita untuk merenungkan satu pertanyaan mendasar: apakah iman kita sungguh tampak dan berdampak dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah iman kita hanya berhenti sebagai pengetahuan, kebiasaan, atau formalitas keagamaan?
![]() |
| Foto Harriet B. dari pexels.com |
Ibadah yang Dikehendaki Tuhan (Yesaya 58:7–10)
Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menyampaikan kritik keras Allah terhadap umat yang rajin berpuasa dan beribadah, tetapi mengabaikan penderitaan sesamanya. Allah melalui Yesaya menegaskan bahwa puasa dan ibadah yang berkenan kepada-Nya bukanlah sekadar menahan lapar atau menjalankan kewajiban religius, melainkan membuka hati bagi mereka yang miskin, tertindas, dan tersingkir.
Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak punya tempat tinggal (Yes 58:7).
Teks ini menegaskan bahwa relasi dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan sesama. Iman yang sejati selalu bersifat sosial. Allah tidak berkenan pada kesalehan yang egois, yang hanya berfokus pada keselamatan pribadi, tetapi menutup mata terhadap jeritan orang lain.
Yesaya menggunakan gambaran yang sangat indah: bila umat melakukan kehendak Tuhan, maka terang akan terbit seperti fajar, luka akan dipulihkan, dan kegelapan akan berubah menjadi terang. Artinya, ketika kasih diwujudkan dalam tindakan nyata, kehadiran Allah menjadi nyata dan mengubah keadaan.
Bagi kita hari ini, bacaan ini menantang cara kita memahami ibadah. Apakah doa, Ekaristi, dan devosi yang kita jalani sungguh mendorong kita untuk lebih peduli, lebih adil, dan lebih solider? Ataukah justru membuat kita merasa sudah “cukup saleh” sehingga tidak merasa perlu berbuat lebih?
Kekuatan Allah dalam Kelemahan Manusia (1 Korintus 2:1–5)
Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus berbagi pengalaman pribadinya saat mewartakan Injil di Korintus. Ia menyatakan bahwa ia tidak datang dengan keunggulan retorika, filsafat, atau kebijaksanaan manusia, melainkan dengan kesederhanaan, kelemahan, dan ketergantungan penuh pada kuasa Allah.
Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Paulus sadar bahwa iman sejati tidak dibangun di atas kekaguman akan manusia, melainkan di atas perjumpaan dengan Allah yang hidup. Salib Kristus yang tampak sebagai kelemahan dan kebodohan di mata dunia justru menjadi sumber keselamatan dan kekuatan sejati.
Pesan ini sangat penting bagi Gereja dan setiap orang beriman. Dalam dunia yang mengagungkan prestasi, popularitas, dan kekuasaan, kita sering tergoda untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri. Namun Paulus mengingatkan bahwa iman tidak bertumbuh dari kehebatan manusia, melainkan dari keterbukaan terhadap karya Roh Kudus.
Bagi para pendidik, pelayan Gereja, orang tua, dan siapa pun yang terlibat dalam pewartaan iman, bacaan ini menghibur sekaligus menegur. Kita tidak dituntut untuk sempurna, tetapi untuk setia. Allah justru bekerja melalui keterbatasan kita, selama kita bersandar kepada-Nya.
Garam Dunia dan Terang Dunia (Matius 5:13–16)
Dalam Injil, Yesus menyampaikan identitas dan misi para murid-Nya: garam dunia dan terang dunia. Dua gambaran ini sederhana, tetapi sarat makna.
Garam memberi rasa dan mencegah kebusukan. Garam tidak mencolok, tetapi kehadirannya menentukan. Demikian pula orang beriman dipanggil untuk memberi makna, nilai, dan arah dalam kehidupan masyarakat. Ketika orang Kristen kehilangan kepekaan akan kasih, kejujuran, dan keadilan, mereka menjadi seperti garam yang tawar—tidak lagi berguna.
Terang, di sisi lain, berfungsi untuk menerangi kegelapan. Terang tidak menyembunyikan diri; ia hadir agar orang lain dapat melihat jalan. Yesus berkata bahwa terang tidak diletakkan di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya menerangi semua orang.
Yesus tidak berkata, “Berusahalah menjadi terang,” melainkan “kamu adalah terang dunia.” Artinya, identitas ini melekat pada diri setiap orang yang telah menerima Kristus. Tantangannya bukan menjadi terang, tetapi hidup seturut terang itu.
Yesus menutup bagian ini dengan pesan penting: terang itu bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan supaya orang melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapa di surga. Dengan kata lain, iman yang nyata selalu mengarahkan orang kepada Allah, bukan kepada ego manusia.
Refleksi Kontekstual: Hidup di Tengah Dunia yang Gelap
Ketiga bacaan hari ini bertemu pada satu titik: iman yang sejati harus tampak dalam tindakan nyata yang memberi terang dan kehidupan bagi sesama.
- Yesaya menegaskan bahwa ibadah sejati adalah kasih yang diwujudkan.
- Paulus menekankan bahwa kekuatan iman berasal dari Allah, bukan dari kehebatan manusia.
- Yesus memanggil kita untuk menjadi tanda kehadiran Allah di dunia melalui hidup yang bermakna.
Iman yang tidak berbuah dalam kasih akan kehilangan daya terang. Sebaliknya, kasih yang berakar pada iman akan menjadi saksi yang kuat, bahkan tanpa banyak kata.
Dunia kita hari ini dipenuhi berbagai bentuk kegelapan: ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, intoleransi, dan sikap acuh tak acuh. Dalam situasi seperti ini, panggilan untuk menjadi garam dan terang menjadi semakin relevan.
Menjadi terang tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar. Kadang terang itu hadir melalui sikap jujur di tempat kerja, kesediaan mendengarkan dengan empati, keberanian membela yang lemah, atau kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Garam dan terang bekerja dalam keheningan, tetapi dampaknya nyata. Iman yang diwujudkan dalam tindakan kecil namun konsisten justru menjadi kesaksian yang paling kuat.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melakukan pemeriksaan batin:
- Apakah hidup kita sudah menjadi tanda kehadiran Allah bagi orang lain?
- Apakah iman kita memberi rasa dan terang, atau justru menjadi hambar dan tersembunyi?
Marilah kita memohon rahmat agar ibadah kita berbuah dalam kasih, pewartaan kita bersumber pada salib Kristus, dan hidup kita sungguh menjadi garam dan terang bagi dunia. Dengan demikian, melalui hidup kita yang sederhana namun setia, nama Allah semakin dimuliakan dan dunia mengalami sentuhan kasih-Nya. Amin.

Posting Komentar untuk "Menjadi garam dan Terang dalam Kehidupan Nyata"